• Sukseskan Pemilihan Serentak 2020 di 9 Provinsi 224 Kabupaten 37 Kota

Strategi Komunikasi dengan Kelompok Disabilitas

Tanggal : 12 Nov 2019 16:02:49 • Penulis : admin • Dibaca : 13867 x

oleh : Thomas Budiono

Anggota KPU Kota Tegal Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih dan SDM

Sosialisasi kepada penyandang disabilitas merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar. Program kerja sosialisasi dan pendidikan pemilih untuk kelompok yang berkebutuhan khusus ini harus dirancang matang sejalan dengan kebutuhan audien. Proses pembelajarannya tidak sama seperti kelompok masyarakat normal pada umumnya, perlu ada proses pendekatan yang spesifik berkomunikasi dan bersosialisasi dengan mereka.

Memang tidak mudah untuk menggelar sebuah kegiatan yang melibatkan komunitas disabilitas ini. Butuh kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas. Dibutuhkan pendekatan objektif rasional untuk mendekatinya. Diperlukan ketulusan dan kesungguhan, termasuk hati yang ikhlas untuk mencapai tujuan pendidikan di kalangan komunitas berkebutuhan khusus ini. Tujuan akhir kerja ini adalah meningkatnya angka partisipasi di kalangan disabilitas.

Dalam sebuah pesta demokrasi, tingkat partisipasi masyarakat merupakan hal yang penting. Indikator ini menjadi penting karena sosialisasi dan partisipasi harus berjalan sepanjang waktu. Bahkan pendidikan pemilih harus berjalan terus menerus di luar batas-batas tahapan. Tak ada kata berhenti untuk melakukan sosialisasi dan pendidikan politik, meski tidak ada anggaran sekalipun.

Lebih dari itu, tingkat partisipasi masyarakat masih menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah perhelatan besar yang bernama pesta demokrasi. Secara ril, partisipasi kehadiran masyarakat ke lokasi tempat pemungutan suara, bukan satu satunya alat ukur untuk menunjukkan tinggi rendahnya tingkat partisipasi masyarakat.

Partisipasi masyarakat masih bisa dilihat dari betapa besar antusiasme masyarakat ikut serta menjadi badan penyelenggara, seperti Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), Petugas KPPS, Pengawas Kelurahan atau Pengawas Lapangan di TPS TPS. Hingar bingarnya partisipasi ini pun bisa ditengok betapa besar kesertaan masyarakat untuk hadir dalam setiap kampanye yang digelar oleh partai politik atau pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Bahkan ada yang menilai tingkat partisipasi masyarakat bisa ditelisik dari sisi betapa besar keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan tahapan. Misalnya, dalam tahapan mempersiapkan dan pemenuhan kebutuhan logistik oleh para pengusaha atau kontraktor, melibatkan para seniman dalam menciptakan jingle atau maskot pemilihan dan melaksanakan kegiatan sosialisasi, mengerahkan warga sekitar kantor dalam proses pelipatan surat suara serta keikutsertaan warga masyarakat dan pelajar dalam proses sosialisasi.

Intinya, tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu Serentak 2019 melibatkan semua komponen masyarakat, termasuk komponen masyarakat penyandang disabilitas. Sebagaimana diketahui kelompok disabilitas dengan berbagai kelebihan dan keterbatasannya, tidak sama persis dengan warga masyarakat yang normal.

Pertanyaannya, bagaimana cara berkomunikasi dan bersosialisasi kepada  kelompok masyarakat disabilitas ini dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya? Adakah kekurangan dan keterbatasan teman-teman disabilitas ini justru menjadi nilai tambah dalam proses Pemilu 2019 di Kota Tegal?

Pandangan masyarakat terhadap sosok disabilitas sangat beragam. Ada yang melihat kelompok disabilitas adalah warga masyarakat yang memiliki kekurangan-kekurangan sejalan dengan parah dan tidaknya tingkat kekurangannya. Ada pula yang memandang dari sisi kebutuhannya. Maka kelompok ini dikategorikan sebagai komunitas yang berkebutuhan khusus. Baik dalam perilaku maupun kebutuhan perlakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Bahkan lebih dari itu, proses pendidikannya pun membutuhkan proses pembelajaran khusus. Guru di Sekolah Luar Biasa itu harus memiliki sertifikasi khusus. Sertifikasi yang merujuk pada kondisi pada masing-masing kelompok belajar disabilitas. Metode, alat peraga dan jumlah anak pun harus dibatasi dalam satu kelompok belajar tertentu. Cara berkomunikasi pun harus diketahui dan dimiliki secara khusus. Termasuk realitas kejiawaan dan kondisi batin penyandang keterbatasan ini.

Ada pula yang menilai bahwa komunitas disabilitas adalah orang normal yang memiliki kekurangan tertentu. Akibat dari cara pandang ini, mengharuskan kita membantu kelompok warga masyarakat ini. Mereka dinilai sebagai kelompok yang perlu dan patut dikasihani. Perlu dibantu dengan berbagai fasilitasnya. Maka muncul fasilitas-fasilitas publik yang diperuntukkan bagi kelompok ini.

Namun apapun kekurangan dan kelebihannya, komunitas disabilitas bisa dipetakan sebagai berikut: Buta (tuna netra) yang adalah orang yang tidak bisa melihat dengan kedua matanya. Meski demikian, orang dengan cacat netra ini biasanya memiliki kemampuan dan kelebihan dalam mendeteksi benda benda yang ada di sekitarnya, dengan memaksimalkan kemampuan pendengarannya. Ia mengenali objek dengan menggunakan suara atau getaran yang ditangkap melalui pendengarannya.

Tuli (tuna rungu), adalah orang yang tidak memiliki kemampuan mendengar sebagaimana orang normal. Bagi yang belum parah, orang dengan disabilitas ini masih bisa menggunakan alat bantu pendengaran sehingga alat pendengarannya bisa berfungsi dengan baik.

Bisu (tuna rungu wicara). Orang bisu adalah orang yang tak bisa berbicara dengan orang lain. Biasanya, tuna wicara ini diderita oleh seseorang sejak kelahirannya dan tidak terdeteksi oleh orang tua atau dokter. Akibat tidak diketahui secara dini maka menyebabkan anak menjadi kesulitan untuk belajar berbicara secara normal.

Cacat Fisik (tuna daksa), orang dianggap mengalami tuna daksa bila mengalami kecacatan fisik, cacat tubuh, kelainan, kerusakan yang diakibatkan oleh kerusakan otak, kerusakan saraf tulang belakang, akibat kecelakaan serta cacat sejak lahir. Contoh yang paling mudah dari tuna daksa ini adalah orang yang tangannya buntung, kakinya lumpuh atau anggota badan lainnya, baik bentuk dan besarannya tidak bisa berfungsi secara normal. Biasanya mengecil atau pertumbuhannya lambat.

Keterbelakangan Mental (tuna grahita). Orang yang tuna grahita adalah orang yang mengalami keterbelakangan mental sehingga memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Biasanya dibawah rata rata kecerdasan orang normal. Ciri keterbelakangan kecerdasan dan mentalnya dapat dilihat dari kelainan fisik maupun perilaku abnormal yang sering ditunjukkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Cacat Pengendalian Diri (tuna laras), orang yang tuna laras adalah orang yang memiliki kesulitan dalam pengendalaian diri, seperti pengendalian emosi, sulit bergaul, senang menyendiri, kepercayaan diri sangat rendah, senang berbuat jahat, malu tampil di depan umum dan lain sebagainya. Termasuk orang yang cacat suara dan ada juga termasuk ke dalam golongan tuna laras.

Cacat Kombinasi (tuna Ganda), orang yang tuna ganda adalah orang yang mengalami kecacatan lebih dari satu macam. Misalnya seperti orang yang mengalami cacat tangan sekaligus mengalami kebutaan permanen. Atau orang yang mengalami keterbelakangan mental (idiot) sekaligus memiliki cacat pendengaran atau tulis.

Sensitivitas Tinggi

Bagi Komisioner KPU Kota Tegal yang tidak memiliki sertifikat keahlian untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan komunitas disabilitas, memang sangat sulit untuk menyampaikan pesan dan kontens sosialisasi. Tetapi bukan berarti tidak bisa melakukan komunikasi dan dialog dengan kalangan mereka. Berikut ini ada cacatan kendala dan kekurangan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan kalangan disabilitas:

Tunanetra

Pertama, Bersosialisasi dan berkomunikasi dengan disabilitas cacat netra memang tidak terlalu sulit. Kita bisa berkomunikasi verbal dengan mereka. Hanya saja, kita tidak bisa menggunakan alat peraga sembarangan. Artinya, jika kita harus menggunakan alat peraga surat suara misalnya, harus dilengkapi dengan tulisan huruf alphabet braille. Dimaksudkan para penyandang cacat netra ini bisa membaca melalui huruf braille.

Masih ada cara lain untuk memberikan informasi yang berupa gambar atau bentuk sebuah alat peraga. Audio Visual Aids itu kita ceritakan kepada cacat netra soal bentuk, ukuran, warna, isi, kompisisi, jenis  dan seterusnya, agar audiens dari mereka bisa memiliki gambaran utuh soal alat peraga yang kita tunjukkan kepada mereka.

Untuk mengumpulkan, komunitas tuna netra dalam sebuah arena sosialisasi, bukanlah hal yang mudah. Sebagian besar mereka harus diantar oleh saudaranya atau dijemput oleh panitia sosialisasi. Maka ketika akan mengumpulkan tuna netra, kita harus menjemput satu per satu atau memberikan biaya transport kepada mereka.

Anggaran yang terbatas untuk membuat alat peraga. Dalam Pemilu Serentak 2019 hanya ada satu alat peraga surat suara. Yakni alat peraga dan template atau alat bantu coblos. Padahal surat suara yang harus dicoblos ada lima lembar.

Tuna Rungu Wicara

Di Kota Tegal, sebagian besar penyandang tuna rungu wicara ini tidak masuk ke jenjang pendidikan formal di Sekolah Luar Biasa. Akibatnya, mereka tidak mampu memahami dan menguasai bahasa isyarat yang berstandar nasional. Sebagian mereka hanya mengetahui bahasa isyarat yang digunakan sehari-hari. Persoalannya, sukarelawan yang melakukan sosialisasi ini tidak bisa menggunakan bahasa isyarat nasional, tetapi harus menyesuaikan bahasa isyarat sehari-hari.

Semua penyanda disabilitas memiliki sensitivitas yang tinggi. Terutama peyandang tuna rungu wicara ini. Meski mereka terkendala untuk berkomunikasi lisan dan pendengarannya, mereka mudah tersinggung bila mendengar cara komunikasi yang berteriak atau setengah membentak. Untuk komunikasi dengan kelompok ini harus jelas, tegas, lugas. Tetapi jangan sampai audiennya merasa kita berteriak-teriak ketika komunikasi dengan mereka.

Mereka mudah tersinggung. Mereka mudah patah semangat. Maka kita sebagai relawan dan petugas sosialisasi harus memahami kondisi psikologis mereka yang sangat sensitif.

Untuk mengatasi kendala dan keterbatasan berkomunikasi ini, biasanya kami bekerjasama dengan penyandang tuna rungu wicara yang mampu menggunakan Bahasa Isyarat Nasional dan sekaligus paham dengan cara komunikasi sehari-hari. Sosok inilah yang kita gunakan untuk menularkan materi sosialisasi dan pendidikan pemilih dikalangan tuna rungu wicara.

Tuna Grahita

Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih di kalangan penyandang keterbatasan mental ini harus sangat hati-hati dan sabar. Bahkan harus ekstra hati-hati dan ekstra sabar. Betapa tidak, untuk menjelaskan satu persoalan kepada mereka, harus sering diulang dan diulang. Ingatan mereka tidak terlalu setia, sehingga relawan harus mengulang dua hingga lima kali penjelasannya. Setelah diulang dan paham, baru menginjak ke materi berikutnya.

Yang paling harus diperhatikan, relawan tidak boleh terlena menguasai perhatian dan titik focus peserta. Mereka tidak boleh perhatiannya pecah dengan teman-temannya. Kelompok ini termasuk komunitas yang mudah terperangaruh dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk teman sekelasnya.

Sebagai ilustrasi, untuk menjelaskan benda yang bernama bola, seorang relawan harus memegang bola dan audiens harus melihat benda itu. Sementara dari mulut relawan mengeluarkan perkataan : “…. boooo … laaaaaa …..”. Ada dua aspek yang disasar, yakni aspek kognitif mereka dan aspek visual mereka melihat benda yang sedang mereka pelajari.

Kesulitan ini juga dihadapi relawan ketika harus berkomunikasi dengan Tuna Laras dan Tuna Ganda. Mereka harus diajak lebih fokus dan lebih  berkonsentrasi untuk menyampaikan pesan. Cacat ini memerlukan penanganan lebih khusus, serius, sabar dan terus menerus. Kita harus menjadi orang yang lebih memahami kondisi mereka. Sebab kondisi disabilitas yang mereka sandang bukan pilihan, tetapi sesuatu yang terberikan. Mereka terlahir dalam kondisi yang sedemikian adanya dan mereka harus menerima dan menanggungnya, tanpa ada kesempatan untuk menawarnya. Nah. (*)


Post Terkait

  • Merawat Integritas
    Tanggal : 2020-01-18 15:00:00

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah salah satu lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia. Bersifat nasional, mandiri dan tetap, kegiatannya berfokus pada penyelenggaraan pemilihan ...Selengkapnya...


  • Catatan Kecil Diawal 2020
    Tanggal : 2020-01-16 12:00:00

    Tahun 2020 merupakan tahun politik, tahun diselenggarakannya Pemilihan Serentak di 270 daerah di Indonesia. Pada fase ini situasi politik sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi. Dinamika yang pada umumnya akan ...Selengkapnya...


  • Mengawal Demokrasi pada Pemilihan 2020
    Tanggal : 2020-01-08 16:00:00

    Memasuki Tahun 2020 sebanyak 9 provinsi, 37 kota, dan 224 kabupaten mulai disibukkan dengan pehelatan Pemilihan Kepala Daerah. Sesuai Undang-undang (UU) 10 Tahun 2016 Pasal 201 ayat 6 disebutkan bahwa ...Selengkapnya...


  • Warteg, Potensi dan Partisipasi Politik
    Tanggal : 2019-12-23 15:44:46

    Perhelatan akbar nasional Pemilu Serentak 2019 telah usai dilaksanakan. Hasilnya sudah sama-sama diketahui dan sudah diputuskan. Bahkan pemenangnya, baik Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan DPR RI, Pemilihan DPRD Jawa Tengah ...Selengkapnya...


  • Perempuan Berdaya: Memaknai Hari Ibu
    Tanggal : 2019-12-20 19:00:00

    Di Indonesia, setiap 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Momen ini pertama kali diperingati pada 1938, dilandasi oleh kesepakatan peserta Kongres Perempuan III di Bandung, 22-27 Juli 1938 yang didasarkan pada momen bersejarah ...Selengkapnya...


Statistik Pengunjung
Link KPU Daerah
KIP Aceh
http://kip.acehprov.go.id/
KPU Provinsi Sumatera Utara
http://kpud-sumutprov.go.id/
KPU Provinsi Sumatra Barat
http://sumbar.kpu.go.id
KPU Provinsi Riau
http://riau.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sumatera Selatan
http://sumsel.kpu.go.id/
KPU Provinsi Lampung
http://lampung.kpu.go.id
KPU Provinsi Kep. Babel
http://kpu-babelprov.go.id/
KPU Provinsi Kepri
http://kepri.kpu.go.id/
KPU DKI Jakarta
http://kpujakarta.go.id
KPU Provinsi Jawa Barat
http://jabar.kpu.go.id/
KPU Provinsi Jawa Tengah
http://jateng.kpu.go.id/
KPU Provinsi Jawa Timur
http://kpujatim.go.id/
KPU Provinsi Banten
http://kpu-bantenprov.go.id/
KPU Provinsi Bali
http://bali.kpu.go.id/
KPU Provinsi NTB
http://kpud-ntbprov.go.id/
KPU Provinsi NTT
http://ntt.kpu.go.id/
KPU Provinsi Kalbar
http://kalbar.kpu.go.id
KPU Provinsi Kalteng
http://kpu-kaltengprov.go.id/
KPU Provinsi Kalsel
http://kalsel.kpu.go.id/
KPU Provinsi Kaltim
http://kaltim.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Tenggara
http://sultra.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Tengah
http://sulteng.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Selatan
http://sulsel.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Utara
http://www.kpu-sulutprov.go.id/
KPU Provinsi Gorontalo
http://gorontalo.kpu.go.id/
KPU Provinsi Sulawesi Barat
http://kpu-sulbarprov.go.id/
KPU Provinsi Maluku
http://kpu-malukuprov.go.id/
KPU Provinsi Maluku Utara
http://malut.kpu.go.id/
KPU DIY
http://diy.kpu.go.id/
KPU Provinsi Bengkulu
http://bengkulu.kpu.go.id
KPU Provinsi Jambi
http://kpud-jambiprov.go.id/
KPU Provinsi Papua Barat
http://kpu-papuabaratprov.go.id/
KPU Provinsi Papua
http://kpu-papuaprov.go.id/
KPU Provinsi Kalimantan Utara
http://kaltara.kpu.go.id/

Selengkapnya...